skip to content »

ingenerius.ru

Cerita dewasa kutiduri istri pamanku yg alim dg obat perangsang

cerita dewasa kutiduri istri pamanku yg alim dg obat perangsang-82

” suara merdu terdengar dari sana.“Ya saya sendiri” jawabku. Selanjutnya, “Eh ngomong-ngomong, berapa sich panjangnya kamu punya?” katanya.“Yah normal sajalah sekitar 18 cm dengan diameter 6 cm.” jawabku.“Wah lumayan juga yach, lalu apakah jasa kamu ini termasuk semuanya,” lanjutnya.“Apa saja yang kamu butuhkan, kamu pasti puas dech..” jawabku.

Sorotan kedua matanya yang sedikit sipit kelihatan begitu sejuk dalam pandanganku, hidungnya yang putih membangir mendengus pelan, dan bibirnya yang ranum kemerahan terlihat basah setengah terbuka, duh cantiknya.Kukecup lembut bibir Tante Donna yang setengah terbuka. Kupejamkan kedua mataku menikmati kelembutan bibir hangatnya, terasa manis.Selama kurang lebih 10 detik aku mengulum bibirnya, meresapi segala kehangatan dan kelembutannya.Uang bagiku tidak masalah, karena aku berasal dari keluarga menengah dan gajiku cukup, namun kepuasan yang ku dapat jauh dari itu.Sehingga aku tidak memasang tarif untuk jasaku itu, diberi berapapun kuterima.ehm…” dan segera mengajakku masuk ke dalam bed cover juga. Aku tak habis pikir ada wanita secantik ini yang pernah kulihat dan suaminya memperbolehkan orang lain menjamahnya, ah.. Kedua bulatan payudaranya yang cukup besar dan berwarna putih terlihat menggantung dengan indahnya, diantara keremangan aku masih dapat melihat dengan sangat jelas betapa indah kedua bongkah susunya yang kelihatan begitu sangat montok dan kencang.

Samar kulihat kedua puting mungilnya yang berwarna merah kecoklatan.

Namun sebagai pegawai swasta yang bekerja, aku memiliki keterbatasan waktu, tidak mudah bagiku untuk mencari wanita tersebut.

Hal ini yang mendorong aku untuk mengiklankan diriku pada sebuah surat kabar berbahasa Inggris, untuk menawarkan jasa ‘full body massage’.

Dan yang agak mengejutkan adalah bahwa dia meminta kesediaanku untuk melakukannya dengan ditonton suaminya. Akhirnya dia memintaku untuk segera datang di sebuah hotel “R” berbintang lima di kawasan Sudirman, tak jauh dari kantorku.

Aku menduga bahwa pasangan ini bukanlah sembarang orang, yang mampu membayar tarif hotel semahal itu.

Tinggiku 165 cm dan berat badanku 70 kg, sedikit kumis menghiasi bibirku.